Testimoni


(Dokumentasi Penyintas Covid-19 Wisnu Sri Hertinjung, S.Psi, M.Psi)

“Memutuskan untuk isoman di wisma bukan hal mudah karena harus terpisah dari keluarga dalam waktu yang cukup lama, belum mengenal kondisi wisma, dan di wisma hanya seorang diri (tidak ada orang lain sesama isoman waktu itu). Tetapi demi menjaga anggota keluarga agar tetap sehat (ada 5 anggota keluarga) serta dorongan terus menerus dari Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 UMS (Colek Ibu Okti), akhirnya Bismillah saya memilih tinggal di wisma.

Awal di wisma, perlu penyesuaian diri selama kurang lebih 3 hari, berharap akan ada orang lain yang menyusul isoman di wisma (Alhamdulillah tidak terkabul). Setelah itu mulai terbiasa dan beraktivitas normal. Ada banyak waktu untuk bermunajat kepada Allah Swt dan juga me time, ditemani kicauan burung dan suara alam lainnya..

Fasilitas di wisma sangat mendukung untuk segera sembuh. Lingkungan bersih, tenang, udara segar, tersedia dispenser, makan tiga kali disediakan oleh petugas. Ditemani satpam di pos depan selama 24 jam, dan pagi hingga siang ada Ibu Pardjiyem yang bersih – bersih dan bisa jadi teman ngobrol meskipun dari jarak jauh. Selain menyediakan makan, beliau juga selalu memberi motivasi agar segera sembuh, menenangkan saat saya merasa mulai kesepian..

Alhamdulillah proses berjalan hingga 14 hari, dengan segala dinamika yang ada.. Alhamdulillah saya sudah merasa sehat seperti sedia kala..

Peran keluarga, teman kampus, tetangga, dan terutama Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 UMS sangat luar biasa selama proses penyembuhan. Mulai dari motivasi, memonitor gejala, memberikan resep – resep obat tambahan, dan melayani konsultasi apapun. Jazakumullah khayr, Ibu Lusi, Mbak Dum, Ibu Okti, Pak Alis, Prof EM, Dokter Ratih, Dokter Iin, Ibu Mahasri, dan anggota lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Semoga kebaikan bapak ibu diberi  balasan terbaik oleh Allah Swt..

Alhamdulillah Insya Allah saya sembuh dan sekarang sudah berkumpul kembali dengan keluarga.

Saran Saya:

  1. Kamar untuk isolasi mandiri diberi lampu emergency yang otomatis nyala saat listrik mati;
  2. Dibuatkan alur atau paket edukasi untuk individu yang terkonfirmasi Covid-19. Misalnya alur pemeriksaan selanjutnya, daftar nama petugas gugus yang bisa dihubungi siapa saja.
  3. Di awal sakit, kami masih kurang paham apa yang harus dilakukan untuk keluarga (kontak erat), info tentang ini masih berbeda-beda (belum standar). Apakah perlu lapor ke Dinkes atau Puskes, perlu swab atau tidak, antigen atau harus PCR, dst.

Selebihnya yang ada hanya rasa syukur Alhamdulillah krn sudah kembali sehat dan semoga Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 UMS juga selalu sehat dan dalam lindungan Allah Swt sehingga bisa terus menjalankan tugas kemanusiaan ini” (Wisnu Sri Hertinjung, S.Psi, M.Psi/Dosen Fakultas Psikologi)

 

 

“Saya mengalami terpapar Covid-19 dengan gejala lemas dan nafas agak sesak dan diopname di rumah sakit dari tanggal 13 Desember 2020 s/d 1 Januari 2021. Selama di ruang ICU rumah sakit saya melihat bagaimana para pasien dan tenaga medis berjuang. Pernah dalam sehari 3 pasien tidak bisa bertahan. Dua dari tiga dokter yang merawat saya juga ikut terpapar. Penyakit Covid-19 ini nyata, dan perlu kejujuran dan keterbukaan bagi yang terpapar untuk melindungi agar orang lain tidak ikut terpapar.

Terima kasih kepada Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 UMS yang telah membantu dalam mencari pendonor plasma konvalesen yang saya perlukan saat itu, juga membantu dengan mengirimkan vitamin untuk keluarga di rumah. Saya juga dilibatkan untuk sharing pengalaman dalam webinar pencegahan dan penanggulangan Covid-19 yang bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran civitas akademika tentang bahayanya pandemi Covid-19 ini” (Agung Setyo Darmawan, S.T., M.T/Kalab CA/CAM & Komp. lanjut Fakultas Teknik)

 

 

Covid-19 itu nyata dan ada dengan 1000 wajah, sehingga gejala dan dampaknyapun bervariasi. Saat terpapar Covid-19, saya merasakan demam tinggi, lemas, nafsu makan hilang, terakhir nafas dangkal, sehingga untuk pergi dan aktifitas di kamar mandi sudah membuat nafas ngos-ngosan.

Alhamdulillah, setelah masuk rumah sakit semua keluhan teratasi, walaupun setiap hari harus menelan obat dan menerima suntikan obat luar biasa banyak. Selama perawatan ternyata diketahui muncul dampak baru, seperti liver menjadi tidak normal, lambung terganggu dan batuk mulai muncul.

Pelayanan di rumah sakit menentukan kesembuhan pasien. Berkat kesungguhan dari rumah sakit, selama 10 hari perawatan kondisi dianggap cukup baik dan bisa pulang. Namun batuk yang muncul diakhir menjelang pulang sangat menganggu proses pemulihan, sehingga sampai saat ini berat badan turun 7 Kg. Bagi penderita yang masuk kelompok manula sangat riskan, apalagi yang memiliki penyakit bawaan, akan memburuk keadaan..

Pesan saya adalah jangan anggap remeh Covid-19, sangat berbahaya, maka cegahlah jangan sampai terpapar, terapkan 5 M dengan sungguh – sungguh dan jaga imun tubuh dengan berbagai cara. Saya berharap tidak ada lagi keluarga besar UMS yang terpapar.

(Drs. Joko Suwandi, S.E., M.Pd/Dosen FKIP UMS)